Wednesday, October 31, 2012

Terorisme Dalam Pandangan Agama Islam

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Islam Bukan Teroris

Sebelum kita membahas tentang terorisme menurut pandangan agama Islam, terlebih dahulu marilah kita pahami tentang pengertian terorisme.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, artinya :
  • Terorisme : Penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan, dalam usaha mencapai suatu tujuan (terutama tujuan politik).
  • Teroris : adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut (biasanya untuk tujuan politik).
  • Teror : perbuatan sewenang-wenang, kejam, bengis, dalam usaha menciptakan ketakutan, kengerian oleh seseorang atau golongan.
Selanjutnya mari kita cermati dan kita telaah kembali ajaran Islam, agama yang diridlai Allah SWT, sebagai petunjuk bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hidupnya di dunia yang sedang kita jalani sekarang ini, maupun kebahagiaan hidup yang haqiqi di akhirat kelak.

Tuesday, October 30, 2012

Hukuman Zina Dalam Islam

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Suri Tauladan Rasulullah SAW Yang Baik

Hukuman Zina

Firman Allah SWT :

اَلزَّانِيَةُ وَ الزَّانِيْ فَاجْلِدُوْا كُلَّ وَاحِدٍ مّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ، وَّ لاَ تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِيْ دِيْنِ اللهِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلاخِرِ، وَ لْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مّنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ. النور:2
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu (menjalankan) agama Allah jika kamu beriman kepada Allah dan har akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. [QS. An-Nuur : 2]

Monday, October 29, 2012

Larangan Memandang Bersentuhan Lawan Jenis

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Suri Tauladan Rasulullah SAW Yang Baik
 
Hadits Larangan Memandang Bersentuhan Lawan Jenis

Firman Allah SWT :

قُلْ لّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَ يَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ، ذلِكَ اَزْكى لَهُمْ، اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا يَصْنَعُوْنَ. النور:30
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. [QS. An-Nuur : 30]

وَ قُلْ لّلْمُؤْمِنتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَ يَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَ لاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ لْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلى جُيُوْبِهِنَّ وَ لاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّ لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ ابآئِهِنَّ اَوْ ابآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَآئِهِنَّ اَوْ اَبْنَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِى اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِى اَخَوَاتِهِنَّ اَوْ نِسآئِهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى اْلاِرْبَةِ مِنَ الرّجَالِ اَوِ الطّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلى عَوْرتِ النّسَآءِ، وَ لاَ يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ، وَ تُوْبُوْا اِلَى اللهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. النور:31

Sunday, October 28, 2012

Larangan Mencuri dan Hukumannya

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Berikut beberapa hadits yang berkenaan dengan Larangan Mencuri dan Hukumannya

Firman Allah SWT :

وَ السَّارِقُ وَ السَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْآ اَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مّنَ اللهِ، وَ اللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ. فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِه وَ اَصْلَحَ فَاِنَّ اللهَ يَتُوْبُ عَلَيْهِ، اِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. المائدة:38-39
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maka barangsiapa bertaubat (diantara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Maidah : 38-39]

Saturday, October 27, 2012

Obat Yang Harus Dihindari Bayi

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Seorang bayi sangat membutuhkan perhatian orang tua khususnya pada ibunya untuk memberikan ASInya, bayi sangat rentan sekali twerhadap suatu penyakit karena daya tahan tubuh seorang bayi sangat rentan atau lemah terhadap berbagai macam kuman penyakit.
jenis obat
Obat
Bila sikecil menderita sakit, sebaiknya lebih berhati-hati saat memberikan obat-obatan terlebih dahulu konsultasikan ke ahli pengobatan untuk memberikan petunjuk pengobatanya agar tidak salah dalam pemberian obat meskipun obat tersebut obat herbal.

Berikut ini jenis-jenis obat yang harus dihindari pemberianya kepada bayi antara lain : 

1. Aspirin 
Obat ini bisa menyebabkan sindrom Reye yang bisa menyebabkan rusaknya ginjal dan otak. Jenis golongan obat ini diantaranya salisilat atau asamasetilsalisilat yang gunanya untuk demam. Bila anak menderita demam sebaiknya berikan yang mengandung paracetamol atau ibuprofen untuk anak diatas 6 bulan sesuai dengan dosisnya

Friday, October 26, 2012

Tips Melawan Influenza Dengan Sistem Imun

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

virus influenza
Anatomi Virus
Tahukah anda influenza dan bagaimanakah cara melawanya, Influenza atau lebih dikenal dengan Flu adalah penyakit yang mudah menular yang penyebabnya virus RNA dari family Orthomyxoviridae atau virus influenza. Infeksi ini terjadi pada sistem pernapasan atas dengan berbagai gejala mulai dari batuk, mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan, menggigil, demam, nyeri tenggorok, nyeri otot, nyeri kepala berat, kelemahan, dan rasa tidak nyaman secara umum. 

Beberapa tips berikut untuk melawan penyakit influenza diantara lakukan sebagai berikut : 
  1. Bawang putih Tambahkan bawang segar ke dalam sup. Penelitian mengungkapkan bawang putih akan meningkatkan sistem imun, selain itu kandungan allicin dalam bawang putih mengandung komponen antivirus. 

Penyebab Dan Penanganan Amenorea

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

amenorea
Penyebab Dan Penanganan Amenorea
pada umumnya terjadi pada wanita yang sedang haid, amenorea ada dua jenis yaitu amenorea primer dan sekunder. Amenorea primer terjadi pada perempuan yang tidak mendapat haid sejak usia akil balik hingga dewasa. Amenorea sekunder terjadi pada seorang perempuan dimana pernah mengalami haid dan tiba-tiba berhenti menstruasi selama tiga bulan berturut-turut, sehingga ini lebih terjadi daripada amenorea primer.

Penyebab amenorea

Amenorea primer :

Saturday, October 20, 2012

Kedudukan Hadits Fadlilah Yaasiin Bg 5

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Sebelumnya telah dibahas Fadlilah membaca surat yaasiin di malam, pagi dan siang hari, berikut ini kelanjutanya mengenai hadits tentang surah Yaasiin. 
surah yaasiin
Yaasiin

Membaca Surat Yaasiin Di Pekuburan

Hadits ke-41

عَنْ اَنَسٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ دَخَلَ اْلمَقَابِرَ فَقَرَأَ سُوْرَةَ يس خَفَّفَ اللهُ عَنْهُمْ يَوْمَئِذٍ وَ كَانَ لَهُ بِعَدَدِ حُرُوْفِهَا حَسَنَاتٌ. فى تفسير القرطبى 15: 4
Dari Anas (bin Malik), bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa memasuki kuburan, lalu membaca surat Yaasiin, niscaya Allah meringankan (siksa qubur) mereka pada hari itu, dan adalah bagi orang yang membacanya mendapat kebaikan sejumlah huruf-hurufnya”. [Dalam Tafsir Al-Qurthubiy juz 15, hal. 4]

Kedudukan Hadits Fadlilah Yaasiin Bg 4

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Sebelumnya telah dibahas Khasiat menulis meminum air yaasiin dan Membaca yaasiin kepada orang yang akan meninggal, berikut ini kelanjutanya mengenai hadits tentang surah Yaasiin.

Surat Yaasiin Dibaca Malam Hari

surah yaasiin
Yaasiin
Hadits ke-30

عَنِ اْلحَسَنِ عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ قَرَأَ يس فِى لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ فِى تِلْكَ اللَّيْلَةِ. الدارمى 2: 457، رقم: 3267
Dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membaca surat Yaasiin pada malam hari dengan mengharap ridla Allah, maka diampuni baginya (dari dosanya) pada malam itu”. [HR. Darimiy juz 2, hal. 457, no. 3267]

Friday, October 19, 2012

Kedudukan Hadits Fadlilah Yaasiin Bg 3


بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Sebelumnya telah dibahas Yaasiin sebagai pengampun dosa dan pahala membaca yaasiin sama dengan 20 berhaji, berikut ini kelanjutanya mengenai hadits tentang surah Yaasiin

Yaasiin Dibacakan Kepada Orang Yang Akan Meninggal


surah yaasiin
Yaasiin
Hadits ke-20

عَنْ صَفْوَانَ قَالَ حَدَّثَنِى اْلمَشِيْخَةُ اَنَّهُمْ حَضَرُوْا غُضَيْفَ بْنَ اْلحَارِثِ الثّمَالِيَّ حِيْنَ اشْتَدَّ سَوْقُهُ. فَقَالَ: هَلْ مِنْكُمْ اَحَدٌ يَقْرَأُ يس؟ قَالَ: فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُوْنِىُّ. فَلَمَّا بَلَغَ اَرْبَعِيْنَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ: فَكَانَ اْلمَشِيْخَةُ يَقُوْلُوْنَ: اِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ اْلمَيّتِ خُفّفَ عَنْهُ بِهَا، قَالَ صَفْوَانُ وَ قَرَأَهَا عِيْسَى بْنُ اْلمُعْتَمِرِ عِنْدَ ابْنِ مَعْبَدٍ. احمد 6: 40، رقم: 16966
Dari Shafwan, ia berkata : Menceritakan kepadaku Al-Masyikhah. (para guru), bahwasanya mereka hadir ketika Ghudlaif bin Harits Ats-Tsimaliy sakit keras. Lalu ia berkata, “Adakah salah seorang diantara kalian yang bisa membaca Yaasiin?”. Lalu Shalih bin Syuraih As-Sakuniy membacanya. Maka setelah sampai pada ayat ke-40, Ghudlaif meninggal. Para guru mengatakan, “Apabila surat Yaasiin dibaca di samping orang yang akan meninggal, niscaya diringankan darinya karena bacaan itu”. Shafwan berkata, “Isa bin Mu’tamir juga membacakannya untuk Ibnu Ma’bad”. [HR Ahmad juz 6, hal. 40, no. 16966]

Thursday, October 18, 2012

Kedudukan Hadits FadlilahYaasiin Bg 2

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Sebelumnya telah dibahas Kedudukan yaasiin sebagai qolbu Al Quran, berikut ini kelanjutanya mengenai hadits tentang surah Yaasiin
surah yaasiin
Yaasiin

Yaasiin Sebagai Pengampunan Dosa

Hadits ke-11

عَنِ اْلحَسَنِ عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ قَرَأَ يس فِى لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ فِى تِلْكَ اللَّيْلَةِ. الدارمى 2: 457، رقم: 3267
Dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membaca surat Yaasiin pada malam hari dengan mengharap ridla Allah, maka diampuni baginya (dari dosanya) pada malam itu”. [HR. Darimiy juz 2, hal. 457, no. 3267]

Wednesday, October 17, 2012

Kedudukan Hadits Fadlilah Yaasiin Bg 1

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Yaasiin qalbul qur’an

Hadits ke-1

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ اَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ لِكُلّ شَيْءٍ قَلْبًا، وَ اِنَّ قَلْبَ اْلقُرْانِ يس. مَنْ قَرَأَهَا فَكَاَنَّمَا قَرَأَ القُرْانَ عَشْرَ مَرَّاتٍ. الدارمى 2: 456، رقم: 3266
surah yaasiin sebagai qolbu Al quran
Dari Qatadah, dari Anas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya bagi setiap sesuatu itu ada qalbu (hatinya), dan sesungguhnya qalbul Qur’an itu adalah surat Yaasiin. Barangsiapa yang membacanya, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an sepuluh kali”. [HR. Darimiy juz 2, hal. 456, no. 3266]


Adapun para perawi/sanad hadits tersebut adalah sebagai berikut :

Tuesday, October 16, 2012

Makanan Yang Bikin Anak Cerdas Dan Pintar

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Mendambakan anak yang pintar dan cerdas adalah suatu keinginan yang diidamkan sejak masih dalam kandungan. Jika anak anda nanti menjadi cerdas disekolah nanti usahakan agar kebutuhan gizi tersebut terpenuhi dengan baik.

Ada beberapa jenis makanan bergizi yang bisa membantu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan otak anak, yang berfungsi sebagai penambah daya ingat dan konsentrasi si anak tersebut.

Berikut ini beberapa jenis makanan yang bisa membantu menambah pertumbuhan dan perkembangan fungsi otak anak, agar anak anda nantinya menjadi cerdas dan daya ingat konsentrasinya bertambah, apasajakah makanan tersebut?

Monday, October 15, 2012

Doa Untuk Orang Sakit

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Berikut beberapa doa untuk orang yang sakit yang diambil dari beberapa hadits nabi Saw : 

قَالَ اَنَسٌ لِثَابِتٍ: اَلاَ اَرْقِيْكَ بِرُقْيَةِ رَسُوْلِ اللهِ ص؟ قَالَ: بَلَى. قَالَ: اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ، اشْفِ اَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِيَ اِلاَّ اَنْتَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا. البخارى 7: 24
Anas berkata kepada Tsaabit (yang sedang sakit), “Maukah kamu aku ruqyah (jampi), sebagaimana Rasulullah SAW meruqyah?”. Tsaabit berkata, “Mau”. Anas berkata, “Alloohumma robban-naas mudzhibal baasi, isyfi antasy-syaafii laa syaafiya illaa anta syifaa-an laa yughoodiru saqoma” (Ya Allah Tuhannya seluruh manusia yang menghilangkan gangguan (penyakit), sembuhkanlah dia, Engkaulah Penyembuh yang tidak ada penyembuh kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak kambuh lagi). [HR. Bukhari juz 7 hal. 24]

Mencegah Stres

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم
Cara mencegah stress
Stop Stres
Kegiatan sehari-hari bisa menimbulkan stres akibat dari berbagai persolan yang kita temui bisa karena jalanan macet, pekerjaan yang belum usai, masalah perekonomian dll. untuk itu ada beberapa langkah pencegahan stres yang perlu diketahui diantaranya :

Sunday, October 14, 2012

Shalat Sunah Kusuf Shalat Khusuf

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW

Shalat Kusuf, shalat Khusuf


Kusuf/Khusuf ialah istilah yang diberikan untuk shalat sunnah di waktu terjadi gerhana matahari maupun gerhana bulan.

Shalat Sunah Kusuf Shalat Khusuf

Bilangan rekaat / Cara Pelaksanaannya :
  • Shalat kusuf/khusuf ini utamanya dilaksanakan di masjid secara berjama'ah dan dengan khutbah sesudah shalat.
  • Shalat gerhana itu tanpa adzan dan iqamah; tetapi hanya panggilan, misalnya "Ash-Sholaatu Jaami'ah" (Mari kita berkumpul untuk shalat)
  • Shalat sunnah ini dikerjakan sebanyak 2 rekaat dengan bacaan jahr.
Pada Tiap-tiap rekaat mengandung 2 ruku' dan 2 sujud dengan cara sebagai berikut :

Shalat Sunah Istikharah

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat-shalat sunnah menurut tuntunan Rasulullah SAW

Shalat Sunnah Istikharah

Shalat sunnah Istikharah ialah istilah shalat sunnah yang dilakukan ketika akan mengerjakan sesuatu pekerjaan yang penting untuk memohon petunjuk ke arah kebaikan.

Waktunya :
Tidak tertentu, boleh dikerjakan pagi, siang, maupun malam
Cara pelaksanaan/bilangan rekaatnya :
Shalat ini bilangan rekaatnya, 2 rekaat dan dengan sirr (suara lembut).
Dalil pelaksanaannya :
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُعَلّمُنَا اْلاِسْتِخَارَةَ فِى اْلاُمُوْرِ كَمَا يُعَلّمُنَا السُّوْرَةَ مِنَ اْلقُرْانِ يَقُوْلُ: اِذَا هَمَّ اَحَدُكُمْ بِاْلاَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ اْلفَرِيْضَةِ ثُمَّ لْيَقُلْ: اَللّهُمَّ اِنّى اَسْتَخِيْرُكَ ... قَالَ وَ يُسَمّى حَاجَتَهُ. البخارى
Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata : Rasulullah SAW pernah mengajarkan kepada kami istikharah dalam urusan-urusan penting sebagaimana beliau mengajarkan Al-Qur'an kepada kami. Beliau bersabda, "Apabila seseorang diantara kalian akan mengerjakan suatu perkara hendaklah ia shalat 2 raka'at yang bukan shalat fardlu, kemudian hendaklah berdoa "Alloohumma innii astakhiiruka ..... dst" dan hendaklah ia sebutkan hajatnya". [HR. Bukhari 2 : 51]

Doa tersebut sebagai berikut :

اَللّهُمَّ اِنّى اَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَ اَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَ اَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ. فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ اَقْدِرُ وَ تَعْلَمُ وَلاَ اَعْلَمُ. وَ اَنْتَ عَلاَّمُ اْلغُيُوْبِ. اَللّهُمَّ اِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اَنَّ هذَا اْلاَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِيْنِى وَ مَعَاشِى وَ عَاقِبَةِ اَمْرِى (اَوْ قَالَ عَاجِلِ اَمْرِى وَ آجِلِهِ) فَاقْدُرْهُ لِى وَ يَسّرْهُ لِى، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيْهِ. وَ اِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اَنَّ هذَا اْلاَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِيْنِى وَ مَعَاشِى وَ عَاقِبَةِ اَمْرِى (اَوْ قَالَ عَاجِلِ اَمْرِى وَ آجِلِهِ) فَاصْرِفْهُ عَنّى وَ اصْرِفْنِى عَنْهُ وَ اقْدُرْلِيَ اْلخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ اَرْضِنِى بِهِ. البخارى 2: 51 
Ya Allah, sesungguhnya aku mohon Engkau pilihkan yang baik dengan pengetahuan-Mu, aku mohon Engkau memberi kekuatan dengan kekuasaan-Mu, dan aku mohon karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedang aku tidak berkuasa, dan Engkau mengetahui, sedangkan aku tidak mengetahui. Engkau yang amat mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Ya Allah, kalau Engkau ketahui bahwa perkara ini baik bagiku, agamaku, penghidupanku dan hari penghabisanku, (atau beliau mengatakan “baik cepat maupun lambat”) maka berikanlah dia kepadaku dan mudahkanlah (urusannya) untukku dan berkahilah aku dengannya. Dan jika memang Engkau ketahui bahwa perkara ini tidak baik bagiku, bagi agamaku, penghidupanku dan hari penghabisanku, (atau beliau mengatakan “baik cepat maupun lambat”), maka jauhkanlah dia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Dan berikanlah kepadaku kebaikan itu walau dimanapun adanya, serta jadikanlah aku orang yang ridla akan (pemberian) itu". [HSR. Bukhari 2 : 51].

Shalat Sunnah Istisqa

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW

Shalat Sunnah Istisqa'

Shalat sunnah istisqa' ialah shalat sunnah yang dikerjakan untuk memohon hujan dikala lama tidak turun hujan.

Cara pelaksanaannya ada dua macam :
  1. Bersama-sama ke tanah lapang, berpakaian sederhana dan dengan merendahkan diri serta penuh rasa harap kepada Allah SWT. Kemudian diadakan khutbah dan berdoa dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Lalu berpaling menghadap Qiblat dengan tetap berdoa. Setelah itu shalat dua rekaat dengan suara nyaring (jahr).
  2. Bila dilakukan pada hari Jum'ah, maka cukup dengan berdoa ketika khutbah Jum'ah, yaitu :

اَللّهُمَّ اَغِثْنَا، اَللّهُمَّ اَغِثْنَا، اَللّهُمَّ اَغِثْنَا
"Ya Allah berilah kami hujan". X 3

Atau dengan lafadh :

اَللّهُمَّ اسْقِنَا، اَللّهُمَّ اسْقِنَا، اَللّهُمَّ اسْقِنَا
"Ya Allah berilah kami hujan". X 3

Dalil-dalil pelaksanaannya :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: شَكَا النَّاسُ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ ص قُحُوْطَ اْلمَطَرِ. فَاَمَرَ بِمِنْبَرٍ فَوُضِعَ لَهُ بِاْلمُصَلَّى. وَوَعَدَ النَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُوْنَ فِيْهِ. فَخَرَجَ حِيْنَ بَدَا حَاجِبُ الشَّمْسِ فَقَعَدَ عَلَى اْلِمنْبَرِ. فَكَبَّرَ وَحَمِدَ اللهَ، ثُمَّ قَالَ: اِنَّكُمْ شَكَوْتُمْ جَدْبَ دِيَارِكُمْ وَقَدْ اَمَرَكُمُ اللهُ اَنْ تَدْعُوْهُ وَ وَعَدَكُمْ اَنْ يَسْتَجِيْبَ لَكُمْ. ثُمَّ قَالَ: اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبّ اْلعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدّيْنِ. لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ. يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ، اَللّهُمَّ اَنْتَ اللهُ. لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ، اَنْتَ اْلغَنِيُّ وَ نَحْنُ اْلفُقُرَاءُ. اَنْزِلْ عَلَيْنَا اْلغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا اَنْزَلْتَ عَلَيْنَا قُوَّةً وَ بَلاَغًا اِلَى حِيْنٍ. ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمْ يَزَلْ حَتَّى رُئِيَ بَيَاضُ اِبْطَيْهِ ثُمَّ حَوَّلَ اِلىَ النَّاسِ ظَهْرَهُ وَقَلَبَ رِدَاءَهُ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ ثُمَّ اَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ وَ نَزَلَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ. ابوداود
Dari 'Aisyah, ia berkata : Orang-orang telah datang mengadu pada Rasulullah SAW tentang tidak adanya hujan. Maka Rasulullah SAW memerintahkan agar diadakan mimbar, lalu mereka menyediakan itu di tanah lapang tempat shalat. Dan Rasulullah SAW menentukan satu hari untuk manusia berkumpul di tempat itu. Maka pada hari yang ditentukan Rasulullah SAW keluar pada waktu matahari terbit, kemudian beliau duduk di atas mimbar, lalu bertakbir dan memuji Allah. Setelah itu beliau bersabda : "Sesungguhnya kamu mengadu kekeringan dan kelambatan hujan daripada waktu yang biasa, sedang Allah telah memerintahkan agar kamu sekalian memohon kepada-Nya dan Ia menjanjikan akan memperkenankan permohonanmu". Kemudian beliau berdoa "Al-hamdu lillaahi Robbil 'aalamiin. Arrohmaanir-rohiim. Maaliki yaumid-diin. Laa ilaaha illallooh. Yaf’alu maa yuriid. Alloohumma antallooh. Laa ilaaha illaa anta. Antal ghoniyyu wa nahnul fuqoroo-u. Anzil ‘alainaal ghoitsa waj’al maa anzalta ‘alainaa quwwatan wa balaaghon ilaa hiin". (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang memiliki hari pembalasan. Tidak ada Tuhan yang layak disembah melainkan Allah. Ia berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Ya Allah, Engkaulah Allah yang tidak ada Tuhan melainkan Engkau. Engkaulah Yang Maha Kaya dan kamilah yang sangat membutuhkan(Mu), turunkanlah atas kami hujan dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan atas kami itu kekuatan dan bekal hingga satu masa). Dan beliau mengangkat tangannya dan tetap demikian itu sehingga kelihatan putih kedua ketiaknya. Setelah itu beliau berpaling membelakangi orang ramai dan membalikkan (memindahkan) selendangnya dan tetap mengangkat kedua tangannya, lalu beliau menghadap kepada khalayak ramai, dan turun dari mimbar, kemudian beliau shalat dua rekaat". [HR. Abu Dawud].

عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ اَبِى بَكْرٍ سَمِعَ عَبَّادَ بْنَ تَمِيْمٍ عَنْ عَمّهِ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ ص اِلَى اْلمُصَلَّى يَسْتَسْقِى وَ اسْتَقْبَلَ اْلقِبْلَةَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَ قَلَبَ رِدَاءَهُ. قَالَ سُفْيَانُ فَاَخْبَرَنِى اْلمَسْعُوْدِيُّ عَنْ اَبِى بَكْرٍ قَالَ جَعَلَ اْليَمِيْنَ عَلَى الشّمَالِ. البخارى 2: 20
Dari ‘Abdullah bin Abu Bakar, ia mendengar ‘Abbad bin Tamim dari pamannya, ia berkata, “Nabi SAW pernah keluar ke mushalla untuk meminta hujan. Beliau menghadap qiblat, lalu shalat dua rekaat, dan membalik selendang beliau”. Sufyan (salah seorang perawi hadits ini) berkata : Mas’udiy mengkhabarkan kepadaku dari Abu Bakar, ia berkata, “(Yang dimaksud membalik selendang beliau ialah) mengalihkan yang sebelah kanan ke sebelah kiri”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 20]

قَالَ اَنَسٌ: اِنَّ رَجُلاً دَخَلَ اْلمَسْجِدَ يَوْمَ جُمُعَةٍ وَ رَسُوْلُ اللهِ ص قَائِمٌ يَخْطُبُ. فَاسْتَقْبَلَ رَسُوْلَ اللهِ ص قَائِمًا ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلَكَتِ اْلاَمْوَالُ وَ انْقَطَعَتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهَ يُغِثْنَا. فَرَفَعَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ: اَللّهُمَّ اَغِثْنَا، اَللّهُمَّ اَغِثْنَا، اَللّهُمَّ اَغِثْنَا. متفق عليه
Telah berkata Anas : Sesungguhnya ada seorang laki-laki masuk ke masjid pada hari Jum'at ketika Rasulullah SAW sedang berkhutbah. Lalu ia menghadap Rasulullah SAW sambil berdiri dan berkata : "Ya Rasulullah, telah binasa hewan-hewan dan terputus perjalanan, maka mohonlah kepada Allah, niscaya Allah memberi hujan kepada kita". Maka Rasulullah SAW pun mengangkat kedua tangannya dan berdoa, "Alloohumma aghitsnaa, Alloohumma aghitsnaa, Alloohumma aghitsnaa". (Ya Allah, berilah kami hujan. X 3 ) [HR. Muttafaq 'Alaih]

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ يَذْكُرُ اَنَّ رَجُلاً دَخَلَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ مِنْ بَابٍ كَانَ وُجَاهَ اْلمِنْبَرِ وَ رَسُوْلُ اللهِ ص قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَ رَسُوْلَ اللهِ ص قَائِمًا فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَلَكَتِ اْلمَوَاشِى وَ انْقَطَعَتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهَ يُغِيْثُنَا. قَالَ: فَرَفَعَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَدَيْهِ فَقَالَ: اَللّهُمَّ اسْقِنَا، اَللّهُمَّ اسْقِنَا، اَللّهُمَّ اسْقِنَا. قَالَ اَنَسٌ: وَ لاَ وَ اللهِ مَا نَرَى فِى السَّمَاءِ مِنْ سَحَابٍ وَ لاَ قَزَعَةً وَ لاَ شَيْئًا وَ مَا بَيْنَنَا وَ بَيْنَ سَلْعٍ مِنْ بَيْتٍ وَ لاَ دَارٍ. قَالَ: فَطَلَعَتْ مِنْ وَرَائِهِ سَحَابَةٌ مِثْلُ التُّرْسِ. فَلَمَّا تَوَسَّطَتِ السَّمَاءَ انْتَشَرَتْ ثُمَّ اَمْطَرَتْ. قَالَ: وَ اللهِ مَا رَأَيْنَا الشَّمْسَ سَبْتًّا. ثُمَّ دَخَلَ رَجُلٌ مِنْ ذَلِكَ اْلبَابِ فِى اْلجُمُعَةِ اْلمُقْبِلَةِ وَ رَسُوْلُ اللهِ ص قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَهُ قَائِمًا فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَلَكَتِ اْلاَمْوَالُ وَ انْقَطَعَتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهِ يُمْسِكُهَا. قَالَ: فَرَفَعَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ: اَللّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَ لاَ عَلَيْنَا، اَللّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَ اْلجِبَالِ وَ الظّرَابِ وَ اْلاَوْدِيَةِ وَ مَنَابِتِ الشَّجَرِ. قَالَ: فَانْقَطَعَتْ وَ خَرَجْنَا نَمْشِى فِى الشَّمْسِ. قَالَ شَرِيْكٌ: فَسَاَلْتُ اَنَسًا: اَ هُوَ الرَّجُلُ اْلاَوَّلُ. قَالَ: لاَ اَدْرِى. البخارى 2: 16
Dari Anas bin Malik, ia berkata : Pada suatuhari Jumat ada seorang laki-laki masuk ke masjid dari pintu yang berhadapan dengan mimbar, ketika Rasulullah SAW sedang berkhutbah.Orang itu berdiri di hadapan Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, hewan-hewan ternak telah binasa dan jalan-jalan terputus. Karena itu mohonlah kepada Allah semoga Dia menurunkan hujan kepada kita”. Anas berkata : Lalu Rasulullah SAW mengangkat tangan beliau dan berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami”, X 3. Anas berkata, “Demi Allah, semula kami tidak melihat di langit awan yang bergumpal maupun yang terpencar dan sesuatu (tanda-tanda akan turun hujan), dan tidak ada sebuah rumah maupun kampung antara kami dan bukit Sala’ (yang menutupi pandangan kami)“. Anas berkata, “Tetapi sebentar kemudian kami lihat awan naik dari belakang bukit seperti perisai. Setelah berada di tengah langit, awan itu lalu menyebar dan kemudian hujan pun turun”. Anas berkata, “Demi Allah, kami tidak dapat melihat matahari selama tujuh hari. Kemudian pada hari Jum’at berikutnya, ketika Rasulullah SAW sedang berkhutbah, ada seorang laki-laki datang dari pintu itu juga menghadap kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, telah binasa harta benda dan telah putus jalan-jalan. Karena itu berdoalah kepada Allah supaya Dia menghentikan hujan”. Anas berkata : Kemudian Rasulullah SAW mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan ini di sekitar kami dan tidak di atas kami. Ya Allah, turunkanlah di tempat-tempat yang tinggi, di gunung-gunung, di bukit-bukit, di tempat-tempat pengambilan air, dan di tempat-tempat pepohonan”. Anas berkata, “Maka berhentilah hujan tersebut, dan kami dapat keluar dan berjalan di bawah sinar matahari”. Syarik bertanya kepada Anas, “Apakah orang laki-laki yang datang itu orang yang dulu juga ?”. Anas berkata, “Aku tidak tahu”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 16]

Saturday, October 13, 2012

Shalat Sunnah Ba'diyah Jum'ah

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat Sunnah Ba'diyah jum'ah
Shalat Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW

Shalat Sunnah (Ba'diyah) Jum'ah


Shalat ba’diyah Jum’at apabila dikerjakan di masjid, 4 rakaat (2 rakaat salam, 2 rakaat salam).

عَنْ اَبِىْ هُرَ يْرَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمُ اْلجُمُعَةَ فَلْيُصَلّ بَعْدَهَا اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ. الجماعة الا البخارى
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi SAW pernah bersabda : "Apabila seseorang diantara kalian shalat Jum'ah, maka hendaklah shalat sesudah itu 4 rekaat". [HR Jama'ah, kecuali Bukhari].

عَنْ اَبِىْ هُرَيْرَةَ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمُ اْلجُمُعَةَ فَلْيُصَلّ بَعْدَهَا اَرْبَعًا. مسلم 2: 600
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seseorang diantara kalian shalat Jum'ah, maka hendaklah shalat sesudah itu 4 raka'at". [HR Muslim juz 2, hal. 600].
Bila dikerjakan di rumah, 2 raka'at

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يُصَلّى بَعْدَ اْلجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ فِى بَيْتِهِ. الجماعة
Dari Ibnu 'Umar RA, bahwasanya Nabi SAW biasa shalat sesudah Jum'ah 2 rekaat di rumahnya. [HR. Jama'ah].

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ يُصَلّي قَبْلَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ وَ بَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ وَ بَعْدَ اْلمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ فِيْ بَيْتِهِ وَ بَعْدَ اْلعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ وَ كَانَ لاَ يُصَلّي بَعْدَ اْلجُمُعَةِ حَتَّى يَنْصَرِفَ فَيُصَلّى رَكْعَتَيْنِ. البخارى 1: 225
Dari ‘Abdullah bin 'Umar bahwasanya Rasulullah SAW dahulu shalat sebelum Dhuhur dua raka’at dan sesudahnya dua raka’at, dan sesudah Maghrib dua raka’at di rumahnya, dan sesudah ‘Isyak dua raka’at. Dan beliau tidak shalat sesudah Jum’at melainkan setelah pulang, beliau lalu shalat dua raka’at. [HR. Bukhari juz 1, hal. 225].

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ اَنَّهُ كَانَ اِذَا صَلَّى اْلجُمُعَةَ، انْصَرَفَ، فَصَلَّى سَجْدَتَيْنِ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَصْنَعُ ذلِكَ. ابن ماجه: 1: 358، رقم: 1130 
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, bahwasanya dia apabila selesai shalat Jum’at, lalu pulang, kemudian shalat dua reka’at di rumahnya. Kemudian ia berkata, “Dahulu Rasulullah SAW melakukan yang demikian itu”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 358, no. 1130]
Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra.: Bahwa setelah mengerjakan salat Jumat, ia pulang dan mengerjakan salat sunat dua rakaat di rumah. Kemudian ia berkata: Dulu Rasulullah saw. berbuat demikian. (Shahih Muslim No.1460)
Keterangan :
Shalat sunnah sesudah Jum'ah, Nabi SAW mengerjakannya 2 rekaat di rumahnya. Sedang menurut hadits yang pertama shalat ba'diyah Jum'ah itu 4 rekaat, maka ini bisa diambil suatu pengertian bahwa yang 4 rekaat itu dikerjakan di masjid

Shalat Sunnah Intidhar

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW

Shalat Sunnah Intidhar


Shalat sunnah intidhar ialah istilah untuk shalat sunnah yang dikerjakan sebelum imam naik ke mimbar/sebelum adzan pada hari Jum'at.

Waktunya : 
Sejak masuk masjid di hari Jum'at hingga imam naik ke mimbar/adzan diserukan.
Cara Pelaksanaan/Bilangan Rekaatnya :
Dua rekaat salam dua rekaat salam, dengan sirr (suara lembut) dan tidak terbatas bilangan rekaatnya, boleh dikerjakan menurut kemampuan dan kehendak masing-masing. Sabda Nabi SAW :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ اَتَى اْلجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدّرَ لَهُ، ثُمَّ اَنْصَتَ حَتَّى يَـْفُرغَ مِنْ خُطْبَتِهِ، ثُمَّ يُصَلّى مَعَهُ، غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَ بَيْنَ اْلجُمُعَةِ اْلاُخْرَى وَ فَضْلُ ثَلاَثَةِ اَيَّامٍ. مسلم 2: 587 
Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa mandi di hari Jum'at kemudian datang ke shalat Jum’at, lalu shalat seberapa ia mampu, kemudian diam sehingga khatib selesai berkhutbah, lalu shalat bersama imam, niscaya diampuni dosanya antara dua Jum'at dan tiga hari sesudahnya. [HR. Muslim 2 : 587].

Shalat Sunnah Thahur

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW

Shalat Sunnah Thahur


Shalat sunnah Thahur adalah istilah yang diberikan untuk dua rekaat shalat sunnah yang dikerjakan sesudah wudlu, dan dengan dibaca sirr (tidak nyaring). Nabi SAW bersabda :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ اْلفَجْرِ: يَا بِلاَلُ حَدّثْنِى بِاَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِى اْلاِسْلاَمِ. فَاِنّى سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِى اْلجَنَّةِ. قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلاً اَرْجَى عِنْدِى اَنّى لَمْ اَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِى سَاعَةِ لَيْلٍ اَوْ نَهَارٍ اِلاَّ صَلَّيْتُ بِذلِكَ الطُّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِيْ اَنْ اُصَلّىَ. البخارى
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda kepada Bilal ketika selesai shalat Shubuh, "Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalan yang paling besar dan memberi harapan yang telah kamu kerjakan di dalam Islam. Karena aku mendengar suara sandalmu di hadapanku di dalam surga". Bilal menjawab, "Tak ada suatu amal yang banyak memberikan harapan selain daripada aku tidak berwudlu dengan sesuatu wudlu, baik di waktu malam maupun siang, melainkan aku mengerjakan shalat dengan wudlu itu dengan shalat yang ditetapkan untukku (yaitu dua raka'at sunnah Thahur)". [HR. Bukhari juz 2, hal. 48].

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ اْلغَدَاةِ: يَا بِلاَلُ، حَدّثْنِى بِاَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ عِنْدَكَ فِى اْلاِسْلاَمِ مَنْفَعَةً. فَاِنّى سَمِعْتُ اللَّيْلَةَ خَشْفَ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِى اْلجَنَّةِ. قَالَ بِلاَلٌ: مَا عَمِلْتُ عَمَلاً فِى اْلاِسْلاَمِ اَرْجَى عِنْدِى مَنْفَعَةً مِنْ اَنّى لاَ اَتَطَهَّرُ طُهُوْرًا تَامًّا فِى سَعَةٍ مِنْ لَيْلٍ وَ لاَ نَهَارٍ اِلاَّ صَلَّيْتُ بِذلِكَ الطُّهُوْرِ مَا كَتَبَ اللهُ لِى اَنْ اُصَلّيَ. مسلم 
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda kepada Bilal ketika selesai shalat Shubuh, “Hai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalan yang paling besar manfaatnya dan memberi harapan yang telah kamu kerjakan di dalam Islam. Karena tadi malam (aku bermimpi) mendengar suara sandalmu di hadapanku di surga”. Bilal menjawab, “Tidak ada suatu amal yang banyak memberikan manfaat dan harapan di dalam Islam selain daripada aku tidak wudlu dengan wudlu yang sempurna di waktu malam maupun siang melainkan aku mengerjakan shalat dengan wudlu itu dengan shalat yang Allah tetapkan untukku (yaitu 2 rekaat shalat sunnah thahur)”. [HR.Muslim juz 4, hal. 1910]

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Selesai salat Subuh, Rasulullah saw. bertanya kepada Bilal: Wahai Bilal! Ceritakan kepadaku tentang perbuatan yang paling bermanfaat yang telah kamu lakukan setelah memeluk Islam. Karena semalam aku mendengar suara langkah sandalmu di depanku dalam surga. Bilal berkata: Aku tidak pernah melakukan suatu amalan yang paling bermanfaat setelah memeluk Islam selain aku selalu berwudu dengan sempurna pada setiap waktu malam dan siang kemudian melakukan salat sunat dengan wuduku itu sebanyak yang Allah kehendaki. (Shahih Muslim No.4497)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal: "Hai Bilal, beritahukanlah kepada saya dengan suatu amalan yang paling engkau harapkan pahalanya serta yang engkau amalkan dalam Islam, karena sesungguhnya saya mendengar suara derap kedua terompah -sandal- mu di mukaku di dalam syurga." Bilal menjawab: "Saya tidak melakukan sesuatu amalan yang lebih saya harapkan di sisiku daripada kalau saya habis berwudhu' baik pada waktu malam ataupun siang, melainkan saya tentu shalat dengan wudhu' ku itu, sebagaimana yang ditentukan untukku -yakni setiap habis berwudhu' lalu melakukan shalat sunnah wudhu'-." (Muttafaq 'alaih) Ini adalah lafaznya Imam Bukhari. Addaffu dengan fa' ialah suara terompah -sandal- dan gerakannya di atas bumi. 
 
Wallahu a'lam.

Friday, October 12, 2012

Shalat Sunnah Dluha

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW

Shalat Sunnah Dluha


Shalat sunnah Dluha ialah : Istilah yang diberikan untuk shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu Dluha.

Bilangan rakaat / cara pelaksanaannya :
  • Dua rakaat hingga delapan rakaat (dua rakaat lalu salam, dua rakaat lalu salam dan seterusnya)
  • Dengan suara sirr (suara lembut).
Dalil-dalil pelaksanaan :

قَالَ اَبُوْ هُرَيْرَةَ: اَوْصَانِىْ خَلِيْلِى ص بِثَلاَثٍ: بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ اَيَّامٍ فِى شَهْرٍ وَ رَكْعَتَيِ الضُّحَى وَ اَنْ اُوْتِرَ قَبْلَ اَنْ اَنَامَ. البخارى و مسلم
Telah berkata Abu Hurairah RA, “Kekasih saya (Nabi Muhammad SAW) telah berwasiat kepada saya dengan tiga perkara yaitu : 1. Puasa tiga hari tiap-tiap bulan. 2. Shalat Dluha dua rakaat, dan 3. Shalat witir sebelum tidur”. [HSR. Bukhari dan Muslim]

قِيْلَ لِعَائِشَةَ: اَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى الضُّحَى؟ قَالَتْ: نَعَمْ اَرْبَعًا وَ يَزِيْدُ مَا شَاءَ اللهُ. مسلم
Ada orang bertanya kepada 'Aisyah RA, “Apakah Rasulullah SAW shalat dluha ?”. Jawab Aisyah, “Ya, empat rakaat dan kadang-kadang beliau menambah dengan seberapa yang dikehendaki oleh Allah”. [HSR. Muslim]

قَالَتْ اُمُّ هَانِئٍ: قَامَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِلَى غُسْلِهِ فَسَتَرَتْ عَلَيْهِ فَاطِمَةُ ثُمَّ اَخَذَ ثَوْبَهُ فَاْلتَحَفَ بِهِ ثُمَّ صَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ سُبْحَةَ الضُّحَى. البخارى و مسلم
Telah berkata Ummu Hani', “Rasulullah SAW pernah mandi dengan ditutupi oleh Fathimah, kemudian beliau mengambil kainnya dan berselimut dengan itu setelah itu beliau shalat Dluha delapan rakaat”. [HSR. Bukhari dan Muslim]

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ اَبِى لَيْلَى قَالَ: مَا اَخْبَرَنِى اَحَدٌ اَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ ص يُصَلّى الضُّحَى اِلاَّ اُمُّ هَانِئٍ فَاِنَّهَا حَدَّثَتْ: اَنَّ النَّبِيَّ ص دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ. فصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، مَا رَأَيْتُهُ صَلَّى صَلاَةً قَطُّ اَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ اَنَّهُ كَانَ يُتِمُّ الرُّكُوْعَ وَ السُّجُوْدَ. مسلم
Dari ‘Abdur Rahman bin Abu Laila, ia berkata : Tidak ada seseorang yang mengkhabarkan kepadaku bahwa ia melihat Nabi SAW shalat Dluha kecuali Ummu Hani’. Sesungguhnya ia berkata, “Bahwasanya Nabi SAW masuk ke rumahnya pada waktu Fathu Makkah, kemudian beliau shalat Dluha delapan raka'at, saya tidak pernah melihat beliau shalat yang lebih ringan dari pada itu, namun beliau tetap menyempurnakan ruku’ dan sujudnya”. [HR. Muslim juz 1, hal. 497]

عَنْ اَبِى ذَرّ عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ قَالَ: يُصْبِحُ عَلَى كُلّ سُلاَمَى مِنْ اَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. فَكُلُّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ وَ كُلُّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ وَ كُلُّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ وَ كُلُّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ وَ اَمْرٌ بِاْلمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ وَ نَهْيٌ عَنِ اْلمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَ يُجْزِئُ مِنْ ذلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحى. مسلم
Dari Abu Dzarr, dari Nabi SAW, bahwasanya beliau bersabda, “Setiap pagi, tiap-tiap ruas sendi seseorang diantara kalian ada sadaqahnya. Maka setiap tasbih itu sadaqah, setiap tahmid itu sadaqah, setiap tahlil itu sadaqah dan setiap takbir itu sadaqah, amar ma’ruf itu sadaqah, nahi munkar itu sadaqah, dan mencukupi yang demikian itu dengan shalat Dluha dua rekaat”. [HR. Muslim juz 1, hal. 498]

عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: فِى اْلاِنْسَانِ سِتُّوْنَ وَ ثَلاَثُمِائَةِ مِفْصَلٍ، فَعَلَيْهِ اَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلّ مِفْصَلٍ مِنْهَا صَدَقَةً. قَالُوْا: فَمَنِ الَّذِى يُطِيْقُ ذلِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اَلنَّخَاعَةُ فِى اْلمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا اَوِ الشَّيْءُ تُنَحّيْهِ عَنِ الطَّرِيْقِ، فَاِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ. احمد
Dari Buraidah, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Dalam diri manusia itu ada 360 persendian, yang ia harus bersadaqah untuk tiap-tiap persendian itu”. Para shahabat bertanya, “Lalu siapa orang yang mampu mengerjakan yang demikian itu, ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Engkau menanam dahak yang berada di masjid (itu merupakan sadaqah), atau engkau menyingkirkan gangguan yang ada di jalan (itu merupakan sadaqah), jika kamu tidak mampu, maka mengerjakan shalat Dluha dua rekaat itu mencukupi bagimu”. [HR. Ahmad juz 9, hal. 20, no. 23059]

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: مَنْ صَلَّى الضُّحَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللهُ لَهُ قَصْرًا مِنْ ذَهَبٍ فِى اْلجَنَّةِ. ابن ماجه : ، ضعيف لانه فى اسناده موسى بن انس هو مجهول
Dari Anas bin Malik, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang shalat Dluha dua belas rekaat, Allah akan membangunkan untuknya istana emas di surga”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 439, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Musa bin Anas, ia majhul]

Keterangan : 
Hadits yang menerangkan shalat Dluha 12 rekaat ini dla’if, maka tidak bisa diamalkan.

Hadits ke-252 : 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam biasanya sholat Dluha empat rakaat dan menambah seperti yang dikehendaki Allah. Riwayat Muslim.
Hadits ke-253 : Menurut riwayat Muslim dari 'Aisyah: Bahwa 'Aisyah pernah ditanya: Apakah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam biasa menunaikan sholat Dluha? Ia menjawab: Tidak, kecuali bila beliau pulang dari bepergian. 

Hadits ke-254 : Menurut riwayat Muslim dari 'Aisyah: Aku tidak melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dengan tetap melakukan sholat Dluha, tetapi sungguh aku melakukannya dengan tetap. 

Hadits ke-256 : Dari Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa menunaikan sholat Dluha dua belas rakaat niscaya Allah membangunkan sebuah istana untuknya di surga." Hadits Gharib diriwayatkan oleh Tirmidzi. 

Hadits ke-257 : 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam masuk ke rumahku, kemudian beliau sholat Dluha delapan rakaat. Riwayat Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya.

Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW

Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid

Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid ialah: Istilah yang diberikan bagi shalat sunnah ketika memasuki sebuah masjid/surau/langgar dan dikerjakan sebelum duduk.

Cara Pelaksanaannya :
Dua rakaat dan dengan bacaan sirr (tidak nyaring)
Dalil pelaksanaannya :

عَنْ اَبِى قَتَادَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا دَخَلَ اَحَدُكُمُ اْلمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلّيَ رَكْعَتَيْنِ. البخارى و مسلم
Dari Abu Qatadah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang dari kamu masuk masjid, maka janganlah ia duduk sebelum shalat dua rakaat”. [HSR. Bukhari dan Muslim]

قَالَ اَبُوْ سَعِيْدٍ: اِنَّ رُجُلاً دَخَلَ اْلمَسْجِدَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَخْطُبُ عَلَى اْلمِنْبَرِ فَأَمَرَهُ اَنْ يُصَلّيَ رَكْعَتَيْنِ. الترمذى
Telah berkata Abu Sa'id, “Sesungguhnya seorang laki-laki pernah masuk ke masjid pada hari Jum'at, pada waktu itu Rasulullah SAW sedang berkhutbah di atas mimbar, maka beliau memerintahkan kepada orang tersebut, untuk shalat dua rakaat”. [HSR. Tirmidzi]

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: دَخَلَ رُجُلٌ اْلمَسْجِدَ وَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَخْطُبُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ فَقَالَ: اَ صَلَّيْتَ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: قُمْ فَصَلّ الرَكْعَتَيْنِ. مسلم 2: 596
Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata : Ada seorang laki-laki masuk masjid ketika Rasulullah SAW sedang berkhutbah pada hari Jum'at. Kemudian beliau bertanya, “Apakah kamu sudah shalat ?”. Orang tersebut menjawab, “Belum”. Beliau bersabda, “Berdirilah, dan shalatlah dua rekaat”. [HSR. Muslim juz 2, hal. 596]
 
Demikian pula, sabda Nabi SAW :

اِذَا جَاءَ اَحَدُكُمْ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَاْلاِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَ لْيَتَجَوَّزْ فِيْهَا. مسلم
Apabila seseorang dari padamu datang (ke masjid) pada hari Jum'at, dan ketika itu imam sedang berkhutbah, maka hendaklah ia shalat dua rakaat dengan ringkas. [HSR. Muslim]

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: جَاءَ سُلَيْكٌ اْلغَطَفَانِيُّ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَخْطُبُ، فَجَلَسَ. فَقَالَ لَهُ: يَا سُلَيْكُ، قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَ تَجَوَّزْ فِيْهِمَا. ثُمَّ قَالَ: اِذَا جَاءَ اَحَدُكُمْ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَاْلاِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَ لْيَتَجَوَّزْ فِيْهِمَا. مسلم 2: 597
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata : Sulaik Al-Ghathafaaniy datang ke masjid pada hari Jum’at lalu duduk, pada waktu itu Rasulullah SAW sedang berkhutbah. Lalu beliau bersabda, “Hai Sulaik, berdirilah, shalatlah 2 rekaat, dan ringankanlah”. Kemudian beliau bersabda lagi, “Apabila seseorang diantara kalian datang (ke masjid) pada hari Jum'at, dan ketika itu imam sedang berkhutbah, maka hendaklah ia shalat dua raka'at dengan ringan”. [HSR. Muslim juz 2, hal. 597]

Dari Abu Qatadah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau salah seorang diantara engkau semua itu masuk masjid, maka janganlah duduk dulu sebelum shalat dua rakaat." (Muttafaq 'alaih)

Dari Jabir r.a., katanya: "Saya mendatangi Nabi s.a.w. dan ia berada di masjid, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Bershalatlah dua rakaat." (Muttafaq 'alaih)

Thursday, October 11, 2012

Tuntunan Mengucapkan Salam

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita mengucapkan salam yang sesuai tuntunan nabi Allah swt, dan apasaja keutamaanya, dan larangannya memberi salam maupun menjawab salam.
Tuntunan Mengucapkan Salam
Salam

1. Hakikat Salam

Salah satu dari keindahan ajaran Islam adalah bahwa Islam mengajarkan kepada setiap pemeluknya untuk mengucapkan salam setiap kali bertemu dengan saudaranya sesama muslim, baik ketika memasuki rumah atau memasuki majlis. Salam menurut ajaran Islam pada hakikatnya adalah doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT untuk keselamatan dan kesejahteraan saudara kita yang kita jumpai.

Shalat Sunnah Rawatib

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW

A. Shalat sunnah rawatib yang muakkad


Shalat sunnah rowatib ialah shalat sunnah yang dikerjakan sebelum (qobliyah) atau sesudah (ba'diyah) shalat lima waktu.

Shalat sunah rowatib
Sedang yang dimaksud Muakkad ialah : Pekerjaan tersebut tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW.

Shalat-shalat tersebut adalah :
  1. Dua atau empat rakaat sebelum shalat Dhuhur
  2. Dua rakaat sesudah shalat Dhubur
  3. Dua rakaat sesudah shalat Maghrib
  4. Dua rakaat sesudah shalat 'Isya
  5. Dua rakaat sebelum shalat Shubuh.
Dalil-dalil Pelaksanaannya :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: حَفِظْتُ مِنَ النَّبِيّ ص عَشْرَ رَكَعَاتٍ، رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلمَغْرِبِ فِى بَيْتِهِ وَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعِشَاءِ فِى بَيْتِهِ وَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ. البخارى و مسلم
Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Saya hafal (ingat dengan betul) dari Nabi SAW sepuluh rakaat shalat sunnah; dua rakaat sebelum shalat Dhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah Maghrib di rumah beliau dan dua rakaat sesudah 'Isya di rumah pula dan juga dua rakaat sebelum Shubuh’”. [HSR. Bukhari dan Muslim]

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ لاَ يَدَعُ اَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اْلغَدَاةِ. البخارى
Dari 'Aisyah RA bahwa Nabi SAW tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum shalat Dhuhur dan dua rakaat sebelum Shubuh. [HSR. Bukhari]

وَ عَنْهَا قَالَتْ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ص عَلَى شَيْئٍ مِنَ النَّوَافِلِ اَشَدَّ تَعَاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيِ اْلفَجْرِ. البخارى و مسلم
Dan daripadanya pula, “Tidak ada Nabi SAW memperhatikan shalat-shalat Sunnah lebih dari pada dua rakaat Fajar”. [HSR. Bukhari dan Muslim]

و لمسلم: كَانَ اِذَا طَلَعَ اْلفَجْرُ لاَ يُصَلّى اِلاَّ رَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ.
Dan bagi Muslim, “Adalah beliau apabila terbit Fajar tidak shalat melainkan dua rakaat yang ringan”.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَرَأَ فِى رَكْعَتَيِ اْلفَجْرِ: قُلْ يَآاَيُّهَا اْلكفِرُوْنَ، وَ قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ. مسلم 
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi SAW membaca, “Qulyaa ayyuhal kaafiruun dan Qul huwalloohu Ahad pada dua rakaat Fajar”. [HSR. Muslim]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمُ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ فَلْيَضْطَجِعْ عَلَى جَنْبِهِ اْلاَيْمَنِ. احمد و ابو داود و الترمذى و صححه
Dari Abu Hurairah RA berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW, “Apabila seseorang dari padamu selesai shalat dua rakaat Qabliyah Shubuh, maka hendaklah ia berbaring atas lambung kanannya”. [HR. Ahmad, Abu Dawud dan dishahkannya oleh Tirmidzi]

Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib dan Shalat Sunnah Fajar

عَنْ اُمّ اْلمُؤْمِنِيْنَ اُمّ حَبِيْبَةَ رَمْلَةَ بِنْتِ اَبِى سُفْيَانَ رض قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلّى ِللهِ تَعَالَى كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيْضَةٍ اِلاَّ بَنَي اللهُ لَهُ بَيْتًا فِى اْلجَنَّةِ اَوْ اِلاَّ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِى اْلجَنَّةِ. مسلم
Dari Ummul Mukminin Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sofyan RA ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tiada orang Muslim yang setiap hari shalat Sunnah dua belas rakaat karena Allah Ta'ala, melainkan Allah akan membuatkan baginya rumah di syurga atau dibuatkan rumah baginya di surga”. [HR. Muslim]

عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: رَكْعَتَا اْلفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَ مَا فِيْهَا. مسلم
Dari Aisyah RA dari Nabi SAW beliau bersabda, “Dua rakaat Fajar itu lebih baik dari pada dunia seisinya”. [HR. Muslim]

Dan masih banyak lagi hadits-hadits dan riwayat-riwayat lain yang senada.

B. Shalat sunnah rawatib yang tidak muakkad

1. Dua rakaat sebelum Shalat Maghrib :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُغَفَّلٍ اْلمُزَنِيّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص صَلُّوْا قَبْلَ اْلمَغْرِبِ. صَلُّوْا قَبْلَ اْلمَغْرِبِ، ثُمَّ قَالَ فِى الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ كَرَاهِيَةً اَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً. البخارى
Dari Abdullah bin Mughoffal Al Muzani berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW, “Shalatlah Qabliyah Maghrib, shalatlah Qabliyah Maghrib”. Dan beliau bersabda yang ketiga kalinya, “Bagi siapa yang mau”. Karena Rasulullah tidak suka orang menjadikannya suatu ketetapan. [HSR. Bukhari]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنَّا نُصَلّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوْبِ الشَّمْسِ وَ كَانَ النَّبِيُّ ص يَرَانَا فَلَمْ يَأْمُرْنَا وَ لَمْ يَنْهَنَا. مسلم
Dari Ibnu Abbas RA berkata : "Kami biasa shalat dua rakaat sesudah matahari terbenam, sedang Nabi SAW melihat kami, tetapi beliau tidak memerintahkan kami dan tidak melarang kami". [HR. Muslim]

2. Dua Rakaat Sesudah (Ba'diyah) Dhuhur :

عَنْ اُمّ حَبِيْبَةَ رض قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ حَافَظَ عَلَى اَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَ اَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ. ابو داود و الترمذى
Dari Ummu Habibah RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa tetap mengerjakan empat rakaat sebelum Dhuhur dan empat rakaat sesudah Dhuhur, niscaya Allah mengharamkan dia masuk neraka”. [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi]

Keterangan :
Shalat sunnah sesudah Dhuhur (Ba'diyah Dhuhur) itu empat rakaat, dua rakaat Muakkad dan dua rakaat yang lain tidak Muakkad.

3. Shalat sunnah sebelum ‘Ashar

عَنْ عَلِيّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يُصَلّى قَبْلَ اْلعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ. ابو داود
Dari ‘Ali AS, bahwasanya dahulu Nabi SAW shalat dua raka’at sebelum shalat ‘Ashar. [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 23, no. 1272]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: رَحِمَ اللهُ امْرَأً صَلَّى اَرْبَعًا قَبْلَ اْلعَصْرِ. احمد و ابو داود و الترمذى و حسنه و ابن خزيمة و صححه، فى بلوغ المرام 382
Dari Ibnu ‘Umar RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Semoga Allah merahmati orang yang mengerjakan shalat sunnah empat raka’at sebelum ‘Ashar”. [HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan ia menghasankannya, dan Ibnu Khuzaimah, dan ia menshahihkannya, dalam Bulughul Maram no. 382]

Keterangan :
Hadits tentang shalat sunnah qabliyah ‘Ashar empat raka’at ini ada ulama yang menganggap hasan atau mengesahkannya. Namun ada pula yang melemahkannya. Bahkan Ibnu Taimiyah menolaknya dengan keras dan menganggap hadits itu maudlu’, walloohu a’lam. [Zaadul Ma’aad juz 1, hal. 311]

4. Shalat sunnah sesudah ‘Ashar :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: وَ الَّذِيْ ذَهَبَ بِهِ مَا تَرَكَهُمَا حَتَّى لَقِيَ اللهَ وَ مَا لَقِيَ اللهَ تَعَالَى حَتَّى ثَقُلَ عَنِ الصَّلاَةِ. وَ كَانَ يُصَلّى كَثِيْرًا مِنْ صَلاَتِهِ قَاعِدًا تَعْنِي الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعَصْرِ. وَ كَانَ النَّبِيُّ ص يُصَلّيْهِمَا وَ لاَ يُصَلّيْهِمَا فِى اْلمَسْجِدِ مَخَافَةَ اَنْ يُثَقّلَ عَلَى اُمَّتِهِ. وَ كَانَ يُحِبُّ مَا يُخَفّفُ عَنْهُمْ. البخارى 1: 146
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Demi Allah, beliau tidak pernah meninggalkan shalat 2 raka’at sehingga beliau bertemu dengan Allah dan beliau tidak bertemu dengan Allah Ta’ala sehingga beliau terasa berat melakukan shalat. Dan beliau sering melakukan shalatnya dengan duduk, yakni shalat 2 raka’at sesudah ‘Ashar, dan Nabi SAW biasa mengerjakan shalat 2 raka’at sesudah ‘Ashar itu tidak di dalam masjid, karena takut akan memberatkan ummatnya dan beliau senang terhadap sesuatu yang membuat ringan bagi ummatnya”. [HR. Bukhari 1 : 146]

عَنْ اُمّ سَلَمَةَ، صَلَّى النَّبِيُّ ص بَعْدَ اْلعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ وَ قَالَ: شَغَلَنِى نَاسٌ مِنْ عَبْدِ اْلقَيْسِ عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ. البخارى
Dari Ummu Salamah RA, ia berkata : Nabi SAW pernah shalat dua raka’at sesudah ‘Ashar, lalu beliau bersabda, “Orang-orang dari suku ‘Abdul Qais telah menyibukkan aku dari shalat dua raka’at sesudah Dhuhur”. [HR. Bukhari 1 : 146]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص نَهَى عَنِ الصَّلاَةِ بَعْدَ اْلعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ وَ عَنِ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ. مسلم 1: 566، البخارى 1: 146
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW melarang shalat ba’da ‘Ashar sehingga terbenam matahari, dan melarang shalat ba’da Shubuh sehingga terbit matahari. [HR. Muslim 1 : 566, Bukhari 1 : 146]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: مَا تَرَكَ رَسُوْلُ اللهِ ص رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعَصْرِ عِنْدِى قَطُّ. مسلم 1: 572، البخارى 1: 146
Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Disisiku Rasulullah SAW sama sekali tidak pernah meninggalkan (shalat) dua raka’at sesudah ‘Ashar”. [HR. Muslim 1 : 572, Bukhari 1 : 146]

Keterangan :
1. Ibnu ‘Abbas, ‘Abdur Rahman bin Azhar dan Miswar bin Makhromah pernah menyuruh Kuraib (bekas budak Ibnu ‘Abbas) untuk datang kepada ‘Aisyah menanyakan tentang dua raka’at sesudah shalat ‘Ashar, karena mereka itu pernah mendengar bahwa Rasulullah SAW melarang melakukannya. Setelah Kuraib datang kepada ‘Aisyah, kemudian ‘Aisyah mengarahkan supaya ia menanyakan kepada Ummu Salamah.
Ummu Salamah menjawab, “Aku pernah mendengar Nabi SAW melarangnya, kemudian aku melihat beliau mengerjakannya. Kemudian aku menyuruh seorang jariyah untuk menanyakan hal tersebut kepada Nabi SAW”. Kemudian jawab Nabi SAW, “Tadi beberapa orang kaum ‘Abdul Qais datang kepadaku membicarakan tentang kaumnya yang masuk Islam, sehingga mereka menyibukkanku dari mengerjakan dua raka’at sesudah Dhuhur. Dan (dua raka’at) yang saya lakukan sesudah ‘Ashar ini adalah (gantinya) dua raka’at sesudah Dhuhur itu. [Ringkasan hadits riwayat Muslim 1 : 571] 
2. ‘Aisyah berkata, “Disisiku Rasulullah SAW sama sekali tidak pernah meninggalkan dua raka’at sesudah ‘Ashar”. [HR. Muslim juz 1, hal. 572, Bukhari juz 1, hal. 146]

Kesimpulan :
  1. Nabi SAW pernah melarang shalat sesudah shalat ‘Ashar. 
  2. Nabi SAW mengerjakan dua raka’at sesudah ‘Ashar pada mulanya sebagai ganti dua raka’at sesudah Dhuhur yang tidak sempat beliau kerjakan, kemudian shalat dua raka’at sesudah ‘Ashar tersebut menjadi kebiasaan beliau yang tidak pernah beliau tinggalkan.

Wednesday, October 10, 2012

Hadits Tentang Shalat Sunah


بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Shalat Sunnah

Shalat sunah atau shalat nawafil (jamak: nafilah) adalah shalat yang dianjurkan untuk dilaksanakan namun tidak diwajibkan sehingga tidak berdosa bila ditinggalkan dengan kata lain apabila dilakukan dengan baik dan benar serta penuh ke ikhlasan akan tampak hikmah dan rahmat dari Allah SWT yang begitu indah
shalat


Dalil Adanya Shalat Sunnah

جَاءَ اَعْرَابِيٌّ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا ذَا فَرَضَ اللهُ عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ؟ قَالَ: اَلصَّلَوَاتُ اْلخَمْسُ اِلاَّ اَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا. البخاري و مسلم
Telah datang seorang Arab gunung, lalu ia berkata, “Ya Rasulullah, shalat apa yang difardlukan oleh Allah atas saya ?”. Jawab Rasulullah SAW, “Shalat lima waktu, kecuali kalau engkau mau shalat sunnah”. [HSR. Bukhari dan Muslim]

Keterangan :
Selain shalat yang lima waktu (Shubuh, Dhuhur, 'Ashar, Maghrib dan 'Isyak), adalah shalat sunnah / tathawwu'.
Sebaiknya Dikerjakan di Rumah

Nabi SAW bersabda :

اَفْضَلُ الصَّلاَةِ صَلاَةُ اْلمَرْءِ فِى بَيْتِهِ اِلاَّ اْلمَكْتُوْبَةَ. البخارى و مسلم
Sebaik-baik shalat itu ialah shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat fardlu. [HSR. Bukhari dan Muslim]

Boleh dikerjakan dengan berdiri, duduk maupun berbaring :

Dari Imron bin Hushain, Nabi SAW bersabda :

اِنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ اَفْضَلُ، وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ اَجْرِ اْلقَائِمِ، وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ اَجْرِ اْلقَاعِدِ. البخارى
Jika (orang) shalat dengan berdiri, itu adalah yang paling baik/sempurna dan barangsiapa yang shalat dengan duduk, maka baginya setengah dari pahala yang berdiri, dan barangsiapa shalat dengan berbaring maka baginya setengah dari pahala yang duduk". [HSR. Bukhari]

Keterangan :
Shalat-shalat yang dimaksud dalam hadits ini adalah Shalat Sunnah, bukan shalat wajib,karena shalat wajib tidak boleh dikerjakan dengan duduk atau berbaring kecuali dengan sebab atau udzur yang dibenarkan oleh agama.
Sabda Nabi SAW :

صَلّ قَائِمًافَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًافَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَىجَنْبِكَ. الجماعة الا مسلما
Shalatlah dengan berdiri, jika tidak dapat maka shalatlah dengan duduk dan kalau tidak dapat, maka shalatlah dengan berbaring. [HR. Jama'ah kecuali Muslim]

Shalat-shalat sunnah menurut tuntunan Rasulullah SAW
  1. Shalat sunnah rawatib yang muakkad
  2. Shalat sunnah rawatib yang tidak muakkad
  3. Shalat sunnah tahiyatul masjid
  4. Shalat sunnah dluha
  5. Shalat Sunnah Thahur
  6. Shalat Sunnah Intidhar
  7. Shalat Sunnah (Ba'diyah) Jum'ah
  8. Shalat Sunnah Istisqa'
  9. Shalat Sunnah Istikharah.
  10. Shalat Kusuf, shalat Khusuf.
  11. Shalat Sunnah Tasbih
  12. Shalat Sunnah Hajat
semoga bermanfaat wassalamualaikumwrwb.

Cara Menjaga Kesehatan Payudara

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Ada beberapa yang perlu diperhatikan untuk menjaga payudara agar tetap sehat dan terhindar dari kanker payudara. Berikut ini kiat-kiat hidup sehat dan deteksi dini untuk kesehatan payudara diantaranya :

1. Jaga berat badan 

Usahakan agar berat badan anda tidak berlebih, karena bila terjadi kegemukan akan meningkatkan resiko kanker payudara dan menurunkan risiko harapan hidup untuk melawan penyakit ini. 

2. Olahraga 

Olahraga secara teratur akan mencegah penyakit dengan cara meningkatkan sistem imun tubuh dan menurunkan level estrogen dan insulin.

Tuesday, October 09, 2012

Deteksi Dini Kanker Payudara Menggunakan Alat Tehnologi Kesehatan

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Beberapa hari yang lalu kami membicarakan tentang mencegah dan menghindari kanker payudara melalui diet makanan sehat, kali ini tidak jauh dari kanker payudara. kanker payudara pembunuh yang kejam setelah kanker leher rahim yang Di Indonesia, prevalensi kanker payudara mencapai 26 per 100.000 penduduk. Artinya dari 100.000 penduduk, terdapat 26 perempuan terkena kanker payudara. Padahal, semakin dini kanker ditemukan akan memperbesar peluang penderita untuk bebas dari kanker. Untuk mengantisifikasi dini kesehatan payudara agar dilakukan pemeriksaan Payudara Sendiri atau biasa disebut SADARI secara teratur setelah habis masa menstruasi.
alat kesehatan untuk payudara
Tehnologi Kesehatan

Tetapi bilamana kanker payudara terdapat benjolan dibawah 1 cm maka tidak akan dapat diraba maka perlu diperiksakan secara berkala menggunakan beragam alat dan metode tehnologi kesehatan.

Dibawah ini beberapa metode pemeriksaan kesehatan untuk mengindikasikan apa tidaknya terdapat kanker payudara menggunakan tehnologi kesehatan secara modern yang tersedia diberbagai RS di Indonesia, Diantaranya :

Monday, October 08, 2012

Hadits Tentang Haid Istihadlah Dan Nifas



بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Berikut beberapa hadits yang membicarakan tentang wanita Haid, istihadlah dan nifas :

1. Cara membedakan darah haid

عَنْ عُرْوَةَ عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ حُبَيْشٍ اَنَّهَا كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ ص: اِذَا كَانَ دَمُ اْلحَيْضَةِ فَاِنَّهُ اَسْوَدُ يُعْرَفُ، فَاِذَا كَانَ كَذلِكَ فَاَمْسِكِى عَنِ الصَّلاَةِ. فَاِذَا كَانَ اْلآخَرُ فَتَوَضَّئِى وَ صَلِّى فَاِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ. ابو داود و النسائى
Dari ‘Urwah, dari Fathimah binti Abu Hubaisy, sesungguhnya ia beristihadlah, lalu Nabi SAW bersabda kepadanya, “Jika benar darah itu darah haidl, maka warnanya adalah hitam sebagaimana yang sudah dikenal, maka apaila benar demikian keadaannya, tinggalkanlah shalat. Akan tetapi apabila berwarna lain, maka berwudlulah dan shalatlah, karena sesungguhnya ia adalah dari gangguan urat”. [HR. Abu Dawud dan Nasai]

Sunday, October 07, 2012

Makanan Pencegah Kanker Payudara

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Kanker payudara adalah sel yang tumbuh dalam jaringan payudara umumnya diderita pada kaum wanita, dimana sel tadi berkembang dan tumbuh secara tidak normal, cepat dan tidak terkendali, akibat dari suatu kondisi sel yang telah kehilangan pengendalian dan  mekanisme pertahanan diri dari normalnya. untuk mencegah dan menghindari resiko kanker payudara alangkah baiknya menjaga pola makanan dengan cara diet yang sehat, mengkonsumsi jenis makanan yang berkhasiat sebagai pencegah kanker payudara.
Jenis makanan pencegah kanker
Makanan Sehat

Ada beberapa makanan yang bisa mencegah terjadinya perkembangan kanker diantaranya sebagai berikut :


1. Jamur


Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Nutrition and Cancer pada tahun 2010 menyatakan, kebiasaan mengonsumsi jamur lebih tinggi dikaitkan dengan rendahnya risiko kanker payudara di kalangan perempuan yang pra-menopause. Cremini, tiram dan jamur shiitake, mengandung antioksidan seperti L-ergothioneine, yang dapat memberikan perlindungan terhadap kanker.